DETAKDETIK.COM (Sijunjung) | Suasana khidmat terasa di Masjid Ikhlas, Nagari Tanjung Bonai Aur Selatan, Kecamatan Sumpur Kudus, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, Jumat (2/10/2026).
Bukan hanya seremoni keagamaan, penobatan Imam, Khatib, Bilal, Angku Ompek dan Urang Tuo Masjid Ikhlas tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat amanah keagamaan sekaligus menjaga nilai adat yang telah hidup dan diwariskan di tengah masyarakat.
Prosesi penobatan dilakukan secara adat oleh Syamsurizal Dt. Rajo Dubalang, SH, selaku Urang Tuo/Niniak di lingkungan Kenagarian Tanjung Bonai Aur. Sejumlah tokoh adat, agama, pemerintahan dan masyarakat turut hadir menyaksikan prosesi tersebut.
Di antara yang hadir dari unsur Pusako 10 di Ateh yakni G. Dt. Paduko (Inyiek Pawuo), Syamsurizal Dt. Rajo Dubalang, SH, Ongku Khatib Muhammad, Dt. Monti Godang, Dt. Sondi, Dt. Nan Onam Bole, Ongku Malin dan Pangulu Andiko. Hadir pula Imam, Khatib dan Bilal dari masjid se-Kenagarian Tanjung Bonai Aur.
Sejumlah pejabat dan tokoh masyarakat juga tampak hadir, di antaranya Anggota DPRD Kabupaten Sijunjung Sumiki Kamel, Ketua LKAAM Kabupaten Sijunjung Z. Dt. Gindo Jalelo, Camat Sumpur Kudus yang diwakili Kasi Ekbang Syafriyul, S.AP, Kapolsek Sumpur Kudus AKP Surya Wahyudi, SH., MH, Kepala KUA Sari Ramadhan, S.Ag., MA, Wali Nagari Tanjung Bonai Aur Selatan A.R. Peto Sori serta Wali Nagari Tanjung Bonai Aur Hendra Basri, A.Md., NL.P.
Penobatan ini memiliki makna tersendiri bagi masyarakat Tanjung Bonai Aur. Imam, Khatib dan Bilal bukan hanya menjalankan tugas di masjid, tetapi juga menjadi bagian penting dalam pelayanan dan pembinaan keagamaan masyarakat.
Para pengemban amanah tersebut berasal dari unsur suku yang ada di lingkungan Kenagarian Tanjung Bonai Aur, yakni Caniago, Piliang, Patopang dan se-Melayuan. Hal ini menunjukkan bahwa adat dan agama berjalan beriringan dalam kehidupan masyarakat setempat.
Suasana semakin khidmat ketika Syamsurizal Dt. Rajo Dubalang, SH, mengalungkan jubah kepada Imam, Khatib dan Bilal yang dinobatkan. Jubah tersebut menjadi simbol amanah dan tanggung jawab yang harus dijalankan dengan sungguh-sungguh dalam melayani jamaah.
Syamsurizal Dt. Rajo Dubalang, SH, mengatakan penobatan tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial. Ada amanah besar yang melekat pada mereka yang menerima tugas keagamaan tersebut.
“Ini bukan seremonial belaka, tetapi sebuah tugas yang perlu dijunjung tinggi. Adat kita sangat menjunjung tinggi agama yang dilandasi Al-Qur’an. Mari kita junjung falsafah Minangkabau, Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah,” ujarnya.
Menurutnya, hubungan antara adat dan agama harus terus dijaga. Keduanya menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan masyarakat yang tetap berpegang pada nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu.
Usai prosesi penobatan, kegiatan dilanjutkan dengan makan bajamba. Tradisi khas Minangkabau itu menjadi momen untuk mempererat silaturahmi dan kebersamaan antara tokoh adat, ulama, pemerintah dan masyarakat.
Rangkaian kegiatan kemudian diisi dengan doa selamat dan ditutup dengan Shalat Ashar berjamaah di Masjid Ikhlas.
Penobatan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi catatan dalam tradisi adat, tetapi juga menjadi awal bagi para pemegang amanah untuk semakin aktif memakmurkan masjid dan membina kehidupan keagamaan masyarakat Tanjung Bonai Aur. (ANZ)














