DetakDetik.Com | Keberadaan harimau Sumatera yang sebelumnya memangsa anak kerbau milik warga di Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, kini tidak lagi terpantau kamera jebak atau camera trap milik Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat.
Monitoring dan pengecekan kamera trap dilakukan di kawasan Kayu Bakicuik, Jorong Gumarang I, Nagari Tigo Koto Silungkang, Rabu (13/5/2026) sekitar pukul 14.00 WIB. Lokasi tersebut sebelumnya menjadi titik ditemukannya bangkai anak kerbau milik warga bernama Suhendri (50), seorang petani setempat.
Kapolsek Andrio Saputra mengatakan, hasil pemantauan selama tiga hari terakhir menunjukkan harimau Sumatera diduga sudah berpindah dari lokasi tersebut.
“Dari hasil pengecekan bersama BKSDA, tidak ada lagi tanda-tanda keberadaan harimau di sekitar lokasi. Kamera trap yang dipasang sejak 11 Mei juga sudah dibuka kembali,” kata Andrio kepada wartawan, Kamis (14/5/2026).
Ia menjelaskan, sebelumnya seekor anak kerbau milik warga ditemukan mati diduga diterkam harimau Sumatera pada Minggu (10/5/2026).
Menindaklanjuti kejadian itu, BKSDA Resor Konservasi Wilayah II Maninjau memasang tiga unit kamera trap untuk memantau pergerakan satwa liar tersebut.
Monitoring dilakukan bersama personel Polsek Palembayan dan tim BKSDA Sumbar. Turut hadir dalam kegiatan itu Kepala Resor Konservasi Wilayah II Maninjau BKSDA Sumbar Ade Putra, Bhabinkamtibmas Nagari Tigo Koto Silungkang Aiptu Antoni, Kanitintelkam Aipda Doni Sal Putra, Kasium Aipda Andre Gusman, serta Baintelkam Bripda Andika Dwi Tamara.
Menurut Andrio, kawasan perkebunan masyarakat di Kayu Bakicuik memang berbatasan langsung dengan hutan lindung yang menjadi habitat alami harimau Sumatera. Kondisi itu membuat potensi konflik antara satwa liar dan warga cukup tinggi.
“Kami mengimbau masyarakat agar tidak melepas atau menempatkan ternak terlalu dekat dengan kawasan hutan lindung untuk menghindari kejadian serupa,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Resor Konservasi Wilayah II Maninjau BKSDA Sumbar, Ade Putra, menyebut hasil pantauan kamera trap sejak 11 hingga 13 Mei tidak lagi memperlihatkan keberadaan harimau di lokasi.
“Prediksi kami, harimau tersebut sudah berpindah tempat sehingga kamera trap dibuka kembali,” katanya.
Harimau Sumatera sendiri merupakan satwa dilindungi yang populasinya terus menurun akibat penyempitan habitat dan konflik dengan manusia. Kawasan hutan di wilayah Palembayan dan Maninjau diketahui masih menjadi jalur jelajah satwa tersebut. (AZT)














